Antologi Puisi Karya MA Sains BIK Menyapa Bupati Tuban di Hari Kemerdekaan

Tuban, 17 Agustus 2026 — Sebuah buku menjadi cara MA Sains Bina Insan Kamil Tuban meninggalkan jejak pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Antologi puisi “Merawat Kemerdekaan & Menjemput Masa Depan” karya asatidz dan santri MA Sains Bina Insan Kamil Tuban dipersembahkan kepada Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, S.E., dan Wakil Bupati Tuban, Drs. Joko Sarwono.

Buku tersebut diserahkan langsung oleh Kepala MA Sains Bina Insan Kamil Tuban, Teguh Pambudi Agung, M.Pd., pada 17 Agustus 2026. Penyerahan ini menjadi salah satu bentuk persembahan madrasah dalam menyemarakkan hari kemerdekaan sekaligus memperkenalkan karya para asatidz dan santri kepada pimpinan daerah.

Antologi “Merawat Kemerdekaan & Menjemput Masa Depan” memuat kumpulan puisi yang lahir dari tangan para asatidz dan santri. Setiap tulisan membawa sudut pandang masing-masing tentang kemerdekaan, kehidupan, harapan, serta masa depan yang ingin mereka sambut.

Bagi madrasah, sebuah karya tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang besar untuk memiliki arti. Buku ini menjadi tanda bahwa perayaan kemerdekaan juga dapat diisi dengan sesuatu yang lahir dari proses belajar dan kreativitas warga madrasah.

Kepala MA Sains Bina Insan Kamil Tuban, Teguh Pambudi Agung, M.Pd., menyampaikan bahwa antologi tersebut sengaja dihadirkan sebagai bagian dari persembahan madrasah pada momentum kemerdekaan.

“Ini adalah karya yang kami persembahkan dalam suasana kemerdekaan. Di dalamnya ada tulisan para asatidz dan santri yang tentu memiliki cerita dan pandangannya masing-masing. Semoga karya ini dapat menjadi kenang-kenangan sekaligus membawa manfaat,” ungkapnya.

Bagi para penulisnya, antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi. Ia menjadi cara untuk turut mengambil bagian dalam perayaan kemerdekaan—bukan dengan mengulang cerita masa lalu, melainkan dengan menuliskan apa yang mereka rasakan dan harapkan untuk hari-hari yang akan datang.

Penyerahan kepada Bupati dan Wakil Bupati Tuban pun menjadi penutup yang bermakna bagi sebuah karya yang lahir dari lingkungan madrasah. Dari ruang kelas dan meja tulis, puisi-puisi itu akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk menjadi bagian dari peringatan kemerdekaan di Kabupaten Tuban. (f)