Lukisan dan Buku Menjadi Persembahan MA Sains Bina Insan Kamil Tuban dalam Halaqah Dakwah Islam Wasathiyah

TUBAN — Ada pesan yang tak selalu perlu disampaikan melalui mimbar. Sebagian menjelma dalam goresan warna, sebagian lainnya tumbuh dalam rangkaian kata yang dirawat bersama. Dari tangan para santri dan asatidz, karya-karya itu menemukan jalannya untuk menjadi bagian dari ikhtiar merawat dakwah Islam yang teduh dan berwasathiyah.

Semangat itulah yang mewarnai Halaqah Dakwah Islam Wasathiyah Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur yang diselenggarakan di Yayasan Bina Insan Kamil Tuban, Sabtu (26/9/2026). Dalam momentum tersebut, MA Sains Bina Insan Kamil Tuban turut mempersembahkan karya lukisan dan buku sebagai wujud penghormatan sekaligus kontribusi nyata dalam menyemarakkan dakwah Islam.

Dua lukisan karya santri kelas XII Al Hazen, Rafif Firjatullah Ramadhan dan Alvinza Eka Cahyarani A., menjadi bagian dari persembahan yang diserahkan dalam acara tersebut. Melalui goresan tangan dan kepekaan artistik, keduanya menghadirkan karya yang tidak sekadar bernilai estetis, tetapi juga menjadi bahasa lain untuk menyampaikan penghormatan dan kecintaan terhadap nilai-nilai Islam.

Selain lukisan, sebuah buku yang merupakan karya bersama seluruh santri dan asatidz MA Sains Bina Insan Kamil Tuban turut diserahkan. Buku tersebut menjadi potret ikhtiar kolektif keluarga besar madrasah dalam menghimpun gagasan, pengetahuan, dan semangat dakwah dalam satu karya. Jika lukisan berbicara melalui warna, buku ini merangkai pesan melalui kata-kata yang diharapkan dapat terus hidup dan memberi manfaat bagi pembacanya.

Kepala MA Sains Bina Insan Kamil Tuban, Ustadz Teguh Pambudi Agung, M.Pd., menyampaikan bahwa karya-karya tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan yang tidak berhenti di ruang kelas.

“Bagi kami, pendidikan bukan hanya tentang apa yang dipelajari di dalam kelas, melainkan juga tentang bagaimana ilmu, kreativitas, dan nilai-nilai Islam dapat diwujudkan menjadi karya yang bermanfaat. Lukisan dan buku ini adalah ikhtiar sederhana keluarga besar madrasah untuk ikut merawat dakwah Islam yang santun, mencerahkan, dan membawa kemaslahatan,” ungkapnya.

Melalui penyerahan karya ini, madrasah ingin menunjukkan bahwa dakwah memiliki banyak pintu untuk menyapa masyarakat. Ia dapat hadir melalui lisan para pendakwah, keteladanan dalam kehidupan, goresan seorang seniman, hingga tulisan yang lahir dari pemikiran bersama.

Bagi Rafif dan Alvinza, karya yang ditorehkan menjadi ruang bagi kreativitas santri untuk mengambil bagian dalam momentum dakwah. Sementara itu, buku karya seluruh santri dan asatidz menjadi penanda bahwa semangat berkarya dapat tumbuh dari kebersamaan, melampaui batas individu dan menjadi milik seluruh keluarga besar madrasah.

Dari Tuban, warna dan kata bertemu dalam satu ikhtiar. Sebuah persembahan yang barangkali sederhana dalam bentuk, tetapi menyimpan harapan panjang: agar ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan, kreativitas tidak sekadar menjadi keindahan, dan dakwah senantiasa menemukan cara untuk menghadirkan kesejukan di tengah kehidupan. (f)