Santri MA Sains BIK Terlibat dalam Sosialisasi Pencegahan OCSEA di Kabupaten Tuban

Tuban – Ruang Rapat RH. Ronggolawe Lantai 3 Setda Kabupaten Tuban menjadi tempat bertemunya perwakilan anak dari sejumlah sekolah di Tuban, Rabu (16/9/2026). Mereka mengikuti Sosialisasi Pencegahan Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA) yang diselenggarakan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Tuban.

Dari MA Sains Bina Insan Kamil Tuban, keterlibatan santri tidak hanya hadir sebagai peserta. Sri Teddy Wiryawan, santri kelas XII Al-Hazen, tercatat sebagai Ketua I Forum Anak Kabupaten Tuban. Bersamanya, Thifal Nafisa Rafif dan Alya Cahaya Rahmadani, santri kelas X Ibnu Zuhri, turut mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai ini mengangkat persoalan yang semakin dekat dengan keseharian anak dan remaja: penggunaan ruang digital. Peserta diajak mengenali bentuk-bentuk eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap anak yang dapat terjadi melalui media daring sekaligus memahami langkah pencegahan serta pentingnya keberanian untuk melaporkan.

Kehadiran santri MA Sains BIK dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengalaman belajar di luar ruang kelas. Terlebih, posisi Sri Teddy sebagai salah satu pengurus Forum Anak Kabupaten Tuban membuka ruang bagi santri untuk tidak hanya memahami persoalan anak, tetapi juga mengambil peran dalam menyuarakan kepentingan dan perlindungan anak di lingkungan sekitarnya.

Kepala MA Sains Bina Insan Kamil Tuban, Teguh Pambudi Agung, M.Pd., menyampaikan bahwa keterlibatan santri dalam kegiatan semacam ini penting karena pendidikan anak tidak berhenti pada pencapaian akademik.

“Santri perlu memiliki pengetahuan untuk menjaga dirinya sekaligus kepedulian terhadap sesama. Ketika mereka terlibat dalam forum dan kegiatan yang membahas persoalan anak, mereka belajar menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar menjadi penonton atas persoalan yang terjadi di sekitarnya.”

Bagi santri, ruang digital hari ini bukan lagi sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, pemahaman tentang keamanan, batas diri, serta keberanian mencari bantuan menjadi bekal penting yang melengkapi pengetahuan di dalam kelas.

Keterlibatan Sri Teddy, Thifal, dan Alya dalam sosialisasi OCSEA menjadi salah satu bentuk pembelajaran nyata bahwa suara anak memiliki ruang untuk didengar, sekaligus menguatkan kesadaran bahwa perlindungan anak di era digital membutuhkan pengetahuan dan keberanian untuk saling menjaga. (f)